PERJALANAN PENDIDIKAN NASIONAL
Melalui perkuliahan filosofi pendidikan ini saya memperoleh pemahaman dan pengalaman baru terkait perjalanan pendidikan nasional serta nilai-nilai yang tumbuhkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Gagasan yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan yang memperhatikan kodrat peserta didik dan mempertimbangkan aspek keseimbangan cipta, rasa, dan karsa. Yaitu pendidikan yang tidak hanya mengedepankan pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan, berfikir dan kecerdasan batin. Pemahaman baru inilah yang menjadi refleksi diri saya untuk mengajar di sekolah nanti. Pendidikan yang mengedepankan prinsip konstruktivisme agar peserta didik memiliki ruang untuk menumbuhkan potensinya dengan caranya. Karena setiap manusia ialah anggota kelompok yang terisi oleh dirinya sendiri, yang lahir dengan keunikannya masing-masing.
Pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang dalam usaha pendewasaan diri demi individu yang merdeka. Dalam proses perkembangan seseorang tidak luput dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan menjadi wadah bagi kita menuntut ilmu baik pengetahuan maupun sikap. Pelopor pendidikan Indonesia yaitu Ki Hadjar Dewantara mengemukakan bahwa dasar dari sebuah pendidikan sangat berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam terhubung dengan "sifat" dan "bentuk" lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman terhubung dengan "isi" dan "irama". Seiring dengan perkembangan zaman, tentunya di Indonesia memiliki perkembangan dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang ada saat ini tentu berbeda dari pendidikan yang ada pada zaman dahulu. Namun, adanya pendidikan terdahulu menjadi pionir bagi pendidikan sekarang. Oleh karena itu, kita perlu tahu tentang sejarah perjalanan pendidikan nasional.
Perjalanan pendidikan zaman kolonial;
1. Portugis,
Portugis datang ke Indonesia bersama dengan missionaris salah satu namanya ialah Franciscus Xaverius. Pada tahun 1536 telah berdiri sebuah seminarie di Ternate yang menjadi sekolah agama anak-anak orang terkemuka. Kabupaten Solor, Flores Timur juga mendirikan semacam seminarie dan mempunyai kurang lebih 50 orang murid yang juga mengajarkan bahasa Latin. Tujuh kampung di Ambon penduduknya sudah beragama Katholik pada tahun 1546. Pengajaran ini sering menimbulkan pemberontakan sehingga akhir abad ke-16 musnahlah kekuatan Portugis di Indonesia.
2. Belanda,
a. Zaman VOC
Belanda datang ke Pulau Jawa Indonesia setelah berakhirnya kekuasaan Portugis pada akhir abad ke-16. Belanda datang ke Indonesia dengan menyebarkan misi VOC. Tiga tujuan didirikannya VOC adalah untuk menghindari persaingan antar pedagang Belanda, meningkatkan keuntungan perdagangan dan memperkuat kedudukan perdagangan Belanda di Indonesia. Pembelajaran yang diberikan yaitu membaca, menulis dan sembahyang. Guru Pendidik berasal dari Belanda dan mendapatkan upah.
b. Hindia-Belanda
Terdiri dari tiga jenjang pendidikan :
1. Pendidikan Rendah dengan bahasa pengantar Belanda dan bahasa melayu
2. Pendidikan Lanjutan / menengah
3. Pendidikan Tinggi
Pendidikan yang diberikan oleh Belanda kepada masyarakat Indonesia bertujuan untuk menciptakan sumberdaya manusia masyarakat Indonesia yang siap menjadi tenaga kerja untuk Belanda dan diberi upah yang minim.
3. Jepang,
Jepang melaksanakan sistem Pendidikan demi kepentingan perang Asia Timur Raya yaitu kepentingan perang jepang melawan sekutu. Sistem Pendidikan zaman Belanda di hapuskan, kecuali Sekolah Desa yang diganti menjadi sekolah pertama. Pendidikan pada zaman Jepang yaitu: ·
· Sekolah Rakyat (Kokomin Gakko) 6 tahun,
· Sekolah Menengah Cu Gakko (laki-laki) dan Zyu Gakko (perempuan) 3 tahun, dan ·
· Sekolah Menengah Kejuruan (Guru)
Bahasa Indonesia menjadi Bahasa utama dalam pengantar pendidikan yang diikuti oleh Bahasa Jepang sebagai bahasa kedua. Jepang memberlakukan beberapa tradisi seperti menyanyikan lagu kebangsaan jepang,senam bersama menggunakan lagu jepang (taiso), dan mengibarkan bendera.
Pergerakan pemuda Indonesia (Boedi Utomo),
Pergerakan nasional diawali dengan didirikannya sekolah kedokteran Belanda, STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Di penghujung abad ke-19 oleh Pemerintah kolonial Belanda dengan harapan menghasilkan dokter-dokter yang berasal dari kalangan pribumi. Kemudian dengan adanya STOVIA melahirkan tokoh-tokoh aktivis cendekiawan yang berintelektual. Aktivis-aktivis kritis ini membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia. Kemudian banyaknya aktivis aktivis yang kritis dan berintelektual lahirlah Boedi Oetomo, yakni organisasi pertama di masa pergerakan nasional. STOVIA berperan menjadi tempat persemaian para remaja-remaja pribumi dalam menumbuhkan semangat nasionalisme. Boedi Oetomo didirikan oleh dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA. Boedi Oteomo didirikan di Jakarta pada 20 Mei 1908. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, kebudayaan, serta tidak bersifat politik. Boedi Oetomo tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik. Bidang kegiatan yang dipilihnya adalah pendidikan dan kebudayaan. beberapa anggotanya seperti dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) keluar dari Boedi Oetomo sebab menginginkan gerakan yang lebih militan dan langsung bergerak dalam bidang politik Namun, Boedi Oetomo tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk berjuang di bidang sosial-budaya dan pendidikan.
Awal mulanya berakhir Budi Utomo, ketika Budi Utomo terpaksa kehilangan kewibawaannya setelah berbagai kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Muncul perpecahan di dalam tubuh Budi Utomo serta ada sekelompok radikal dan moderat di tubuh organisasi ini. Budi Utomo pun kurang mendapat dukungan masyarakat karena keberadaannya dalam arena politik tidak terlalu penting. Organisasi ini pun resmi dibubarkan pada 1935.
Pergerakan Raden Ajeng Kartini,
Raden Ajeng Kartini merupakan sosok wanita yang dilahirkan ditengah tengah keluarga bangsawan Jawa. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong Jepara dan wafat pada tanggal 17 September 1904. Ayah Kartini bernama RMAA Sosroningrat sedangkan ibunya adalah MA Ngasirah. Pada tahun 1885, saat Kartini sudah usia sekolah, Kartini dimasukkan sekolah di Europese Lagere School (ELS) hanya diperuntukkan khusus bagi warga Belanda dan anak pembesar pribumi. Pada pagi hari bersekolah dan sorenya mendapat pelajaran menyulam dan menjahit dari seorang nyonya Belanda, membaca Qur’an dari seorang guru agama wanita, dan pelajaran bahasa Jawa dari seorang guru bernama Pak Danu. Sesuai adat feodal yang masih sangat kuat, Kartini tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Adat istiadat menghalangi langkah Kartini untuk melanjutkan pendidikan, oleh sebab itu pada Tahun 1892, saat usia Kartini menginjak 12 tahun lebih Kartini akhirnya dipingit oleh ayahnya. Setelah mengalami masa pingitan kurang lebih empat tahun. Pada tanggal 2 Mei 1896, kurungan terhadap dirinya beserta kedua saudarinya secara resmi dibuka, hal ini dikarenakan desakan dari Residen Sijtthof dan Ny. Ovink yang prihatin melihat Kartini dan adik-adiknya dipingit.
Kartini menaruh perhatian yang luar biasa pada pendidikan perempuan. Hal tersebut menjadi landasan paling mendasar pergerakan perempuan Indonesia dari dulu hingga kini. Kartini merumuskan lima konsep pendidikan perempuan (Sastroatmodjo, 2005): 1. Perempuan merupakan tempat pendidikan pertama
2. Perempuan merupakan pembawa peradaban
3. Pendidikan itu mendidik budi dan jiwa
4. Pendidikan kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan untuk kemajuan bangsa. 5. Pendidikan untuk cinta tanah air
Gerakan Transformasi Ki Hadjar Dewantara,
Gerakan Transformasi Ki Hadjar Dewantara dalam perkembangan pendidikan sebelum dan sesudah kemerdekaan. Alasan Ki Hadjar Dewantara ingin memajukan pendidikan di Indonesia karena bangsa ini sangat dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda, sementara penguasa pribumi hanya dijadikan sebagai pembantu. Ki Hadjar Dewantara mendefinisikan Pendidikan adalah sebagai daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak-anak, agar dapat memajuka kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan dan penghidupan anak-anak yang selaras dengan alamnya dan masyarakat. Selanjut dalam perjalanannya memajukan pendidikan di bangsa Indonesia, Ki Hadjar Dewantara membangun pendidikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922, Tujuan didirikannya taman siswa adalah untuk memberikan pendidikan pada rakyat Indonesia sehingga mampu melahirkan kaum terpelajar yang berguna untuk mewujudkan masyarakat yang tertib dan damai yang dilakukan dengan menciptakan keadilan sosial sebagai wujud berlakunya kedaulatan kemanusiaan yang menghilangkan segala rintangan seperti bentuk penjajahan oleh manusia terhadap sesamanya sehingga tercipta kemerdekaan yang sama rasa dan sama rata. Ciri khas pendidikan di Taman Siswa yaitu terdapat 5 Azas Panca Darma (Kodrat Alam, Kebudayaan, Kemerdekan, Kebangsaan, dan Kemanusian).
1. Azas Kodrat alam adalah bahwa hakekat manusia sebagai makhluk sudah merupakan satu dengan kodrat alam semesta ini, sehingga manusia tidak dapat terlepas dari kehendak hukum - hukum kodrat alam. Oleh karena itulah maka manusia akan meraih kebahagiaan apabila mampu menyatukan diri dengan kodrat alam.
2. Azas Kemerdekaan adalah azas yang menyatakan bahwa kemerdekaan sudah merupakan kodrat alam kepada manusia sehingga manusia hanya perlu untuk menjalani bersama kehidupannya dengan tertib dan damai.
3. Azas Kebudayaan adalah manusia sebagai mahkluk harus menjalani hidup dengan memelihara nilai-nilai dan bentuk-bentuk kebudayaan nasional menuju ke arah kemajuan yang sesuai dengan perkembangan zaman, menuju kemajuan dunia untuk memenuhi kepentingan hidup rakyat baik secara lahir dan batin berdasarkan situasi perkembangan zaman.
4. Azas Kebangsaan asas yang mengajarkan untuk selalu memiliki rasa persatuan diantara sesama masyarakat baik dalam suka dan duka dan dalam kehendak untuk mencapai kebahagiaan hidup lahir dan batin seluruh bangsa. Asas kebangsaan harus memperhatikan hak – hak asasi manusia serta tidak memerikan rasa permusuhan terhadap bangsa - bangsa lain.
5. Azas Kemanusiaan adalah bahwa setiap manusia adalh mahkluk yang mempunyai akal dan budi sehingga manusia harus menumbuhkan rasa cinta dan saling mengasihi sesama manusia.
Kemudian menurut Ki Hajar dewantara, dalam hidup seorang anak terdapat tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu : alam keluarga, alam perguruan(sekolah), dan alam pergerakan pemuda (masyarakat).
1). Alam keluarga atau lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang pertama bagi perkembangan individu anak, karena sejak kecil anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga. Awal pendidikan anak sebenarnya diperoleh melalui keluarga, dalam dunia pendidikan disebut pendidikan informal. Pembelajaran yang terjadi di dalam keluarga terjadi setiap hari pada saat terjadi interaksi antara anak dengan keluarganya. Peran orangtua menjadi panutan bagi anak-anaknya. Dalam keluarga, orangtua mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter dan kepribadian anak. Semakin baik kualitas keluarga tersebut, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh dan berkembang kepribadian dan karakternya yang berkualitas juga.
2). Alam perguruan (Sekolah) merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara formal atau disebut juga dengan pendidikan formal. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah saat ini lebih tepat mengedepankan fasilitasi kepada peserta didik dalam arti student center bukan teacher center. Peran guru dalam memfasilitasi peserta didik dapat dilakukan dengan banyak cara, satu di antaranya adalah guru tidak lagi memberikan informasi secara searah dalam bentuk ceramah. Guru dapat berperan sebagai fasilitator, motivator atau tutor bagi peserta didik.
3). Alam pergerakan pemuda (masyarakat) dapat dikatakan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling berinterkasi dalam suatu hubungan sosial. Anak dalam pergaulannya di dalam masyarakat tentu banyak berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya anak bermain dengan teman-temannya di luar rumah, sedangkan secara tidak langsung misalnya anak melihat kejadian-kejadian yang dipertontonkan oleh masyarakat. Anak akan memperoleh pembelajaran di dalam masyarakat tersebut.
Pada pembelajaran di Taman Siswa Ki Hajar Dewantara menerapkan Sistem Among yang menjadi prinsip taman siswa, yaitu : 1. Ing ngarso sung tulodo atau didepan kita memberi contoh 2.Ing madya mangun karso atau ditengah membangun prakrsa dan bekerja sama 3.Tut wuri handayani atau dibelakang memberi semangat. Dari ketiga prinsip tersebut yang paling dikenal hingga saat ini ialah Tut wuri handayani karena prinsip ini sesuai dengan prinsip konstruktivisme dimana guru sebagai pendorong agar anak dapat menemukan pengalaman atau pengetahuan baru/pembelajaran berpusat kepada anak.
Pendidikan di Indonesia terus berkembang. Bahkan pembebasan biaya bersekolah dari awalnya 9 tahun hingga sekarang 12 tahun terus terlaksana. Banyak kemajuan dalam pendidikan jika dibandingkan dengan terdahulunya. Baik secara internal maupun eksternal. Apalagi pendidikan di abad 21 ini. Baik secara teknologi yang terus berkembang pesat. Pendidikan pun ikut berkembang mengikuti zaman. Perjalanan pendidikan di Indonesia tidak luput dari peran seorang guru. Oleh karena itu, saya sebagai calon seorang guru, penting untuk memahami perjalanan pendidikan terdahulu yang menjadi pondasi bagi pendidikan saat ini di Indonesia.

0 komentar